Benarkah Industri Ini Terpuruk Karena Digitalisasi?

Perkembangan dunia digital yang sulit dicegah membuat sebagian besar industri offline mengalami penurunan dan bahkan kematian. Banyak industri offline mulai tumbang karena tidak mampu bersaing dengan arus bisnis online yang sangat pesat dan cepat.

Penutupan toko seolah menjadi pilihan satu-satunya ketimbang merugi lebih besar karena tidak adanya income, namun sewa toko harus selalu dibayar. Hal ini menjadi fakta di era digitalisasi seperti saat ini. Berikut adalah delapan industri yang terpuruk karena era digitalisasi atau bisnis online menurut Exabytes.co.id

1. Supermarket

Belum lama ini, kita dikejutkan dengan berita kebangkrutan salah satu pioneer supermarket yang mengusung konsep supermarket dan coffee shop, yaitu Seven Eleven. Hal ini menjadi salah satu bukti akan ketatnya persaingan bisnis di area tersebut.

Belum lagi gebrakan yang dilakukan Amazon melalui AmazonGo (supermarket yang terintegrasi dengan aplikasi smartphone) yang bisa jadi akan masuk ke pasar Indonesia. Dengan mengusung konsep No ines, No checkout atau Tanpa antre, Tanpa bayar di kasir, AmazonGo bisa jadi akan menjadi saingan berat untuk brand-brand supermarket ternama seperti Carrefour, Hypermart, dan lain-lain.

2. Elektronik

Pasar elektronik Glodok menjadi salah satu pusat perdagangan elektronik terbesar di Indonesia pada tahun 1990-an yang berlokasi di Jakarta Barat. Sejak 2-3 tahun belakangan, Glodok menjadi sepi pembeli salah satu penyebabnya karena berkembangnya toko online.

Kebanyakan pedagang yang masih bertahan di Glodok karena memiliki toko online, sedangkan pedagang yang tidak menjual online sudah bisa dipastikan tidak dapat bertahan di Glodok.

3. Handphone

Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar telpon genggam. Roxy Square menjadi salah satu saksi bisu geliat di tahun 2000an di Jakarta.

Pembangunan fly over dilakukan sebagai solusi untuk mengurai kemacetan di daerah Roxy Square dan maraknya penjualan melalui online disinyalir menjadi dua alasan terbesar sepinya pembeli di Roxy Square saat ini. Belum lagi biaya sewa ruko Rp20 juta/tahun.

4. Transportasi

Siapa yang tidak kenal GoJek, Grab, atau Uber? Tiga brand transportasi terbesar yang saat ini ada di Indonesia. Anehnya, meski berpenghasilan ratusan juta setiap harinya, perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki aset transportasi sebagaimana layaknya bisnis transportasi sebelumnya atau lebih dikenal sebagai share economy atau peer economy.

Model bisnis tersebut, berdampak sangat besar bahkan hingga menimbulkan gejolak sosial yang sebelumnya menggantungkan hidupnya pada jasa transportasi seperti ojek pangkalan dan taksi.

5. Hotel

Hampir serupa dengan nasib transportasi offline, industri perhotelan terus berusaha keras bertahan agar tingkat hunian (occupancy) tetap di angka yang menguntungkan. Salah satu faktor penyebab menurunnya pendapatan pada industri ini yaitu online marketplace (seperti: AirBnB) atau aplikasi budget hotel (seperti: Reddoorz dan Airy Room), perusahaan website/aplikasi yang memungkinkan pemilih rumah, villa, apartemen, bahkan kamar kos, agar dapat menyewakan propertinya kepada orang lain.

Tingkat hunian beberapa hotel dan villa di Bali kurang dari 50% bahkan 0% occupancy selama berhari-hari, sesuatu yang jarang sekali terjadi di beberapa tahun sebelumnya.

6. Koran

Sinar Harapan, Harian Bola, Koran Tempo Minggu, dan Jakarta Globe adalah hanya sebagian dari banyak media cetak yang terpaksa harus menutup bisnisnya karena tingginya biaya cetak koran dan tidak mampu bersaing dengan media online (seperti detik.com, okezone), meskipun sebagian media offline sudah beralih ke online.

Kejadian serupa juga terjadi di media-media cetak di Amerika Serikat, sebut saja The Washington Post dan The New York Times.

7. Tekstil

Pasar Tanah Abang atau dulunya bernama Pasar Sabtu telah ada sejak tahun 1.735 yang menjadi salah satu pusat penjualan tekstil terbesar se-Asia Tenggara yang berlokasi di Jakarta Pusat. Menurut beberapa sumber, penurunan penjualan hingga mencapai lebih dari 50% dirasakan oleh penjual jika dibandingkan dengan tahun lalu hal ini dikarenakan berkurangnya daya beli masyarakat dan persaingan dengan e-commerce (toko online) besar yang semakin digandrungi masyarakat.

Untungnya, sebagian pemilik toko di Tanah Abang masih terbantu dengan adanya pembeli reseller yang menjual kembali barang dagangan mereka melalui online.

8. Ritel

PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk mengakui penutupan delapan gerai dilakukan untuk menyesuaikan penurunan pendapatan yang telah terjadi yang disebabkan salah satunya karena maraknya marketplace sehingga renovasi dilakukan untuk menyesuaikan tren yang ada saat ini dengan mengubah layout dan format supermarketnya.

Beberapa bulan setelah pernyataan tersebut, sekitar 30 supplier Hypermart melakukan mediasi dengan perwakilan MPPA yang diwadahi Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan. Mereka mengeluh karena masih ada tunggakan yang belum dibayarkan oleh manajemen Hypermart.

Menanggapi isu yang beredar, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan saat ini penjualan ritel mengalami penurunan karena daya beli masyarakat yang melemah. Penjualan retail di luar belanja lewat online, hanya naik 5-6% dibandingkan bulan lainnya. Padahal pada momen yang sama tahun lalu, naik hingga 16,3%.

Presenter dan Narasumber yang Mengagumkan

Jika Saya sebut nama Alvito Deannova dan Naga Bonar, banyak orang yang ‘ngeh’ dan bilang, “… Ooo, presenter berita dan aktor.”

Nah, dua sosok yang Saya bicarakan ini akhirnya bertemu di satu frame. Dengan tema Pilkada 2018 di Jawa Barat, Sosok Alvito dengan piawainya membuat Deddy Mizwar bicara blak-blakan di CNN Indonesia.

Selama program ini berlangsung Saya dibuatnya tersenyum. Apalagi saat calon gubernur Jawa Barat di Pilkda 2018 bilang…

“Kekuasaan bukan tujuan, tapi hanya alat meluaskan amal”

#DeddyMizwar

 

Cerita Sahabatku…

Miris jika mendengar cerita teman-teman jurnalis yang berstatus sebagai kontributor ataukoresponden. Jangankan kaya, kehidupan mereka jauh dari sejahtera. Semakin banyak perusahaan media yang memperkerjakan jurnalis berstatus kontributor membuat jaminan hidup bagi mereka tidak jelas.

Perusahaan media kerap memanfaatkan ketidakjelasan status ini, untuk mengingkari hak-hak pekerja yang diatur dalam undang-undangketenagakerjaan, enggan memberikan upah yang layak, enggan memberikanjaminan kesehatan serta tunjangan lainnya yang bisa membuat para jurnalis kontributor bekerja lebih profesional.

Memang belum banyak perusahaan media yang mampu memberikan honor dan tunjangan yang layak bagi para jurnalis kontributor. Akan tetapi, ada juga yang sudah mampu namun belum bersedia atau pelit untuk memenuhi kewajiban tersebut. Pertumbuhan perusahaan media tidak berbanding lurus dengan kenaikan upah layak.

Dalam banyak kasus, hak dasar jurnalis seperti honor basis, kontrak kerja, jaminan kesehatan, serta tunjangan hari tua tidak dipenuhi perusahaan. Masih banyak jurnalis dibayar dibawah standar upah minimum kota (UMK) yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kontributor atau Koresponden yang belum menjadi karyawan atau kesempatan mereka untuk menjadi karyawan memang sengaja dipersulit perusahaan media, selayaknya tetap diberikan honor tetapi yang besarannya tergantung dari perusahaan media bersangkutan atau mungkin minimal 50 persen UMK. Selebihnya mereka mendapatkan penghasilan dari honor karya jurnalistik yang dibayar berdasarkan jumlah berita yang dihasilkan dalam periode satu bulan. Selain honor tetap, selayaknya perusahaan media juga memberikan jaminan kesehatan.

Selain itu, jurnalis yang berstatus kontributor harus berjibaku dengan masalah kesehatan diri atau keluarganya. Kalau cuma masuk angin mungkin ngak masalah, tapi begitu dia atau anggota keluarga intinya terkena penyakit agak berat dan memerlukan perawatan lebih lanjut atau terkena kecelakaan kerja saat meliput, mereka harus jungkir balik sendiri untuk mencari biayanya.

Bantuan dari perusahaan media tempat dia bernaung biasanya ala kadarnya, ini karena ketidakjelasan status mereka. Selebihnya mereka mengandalkan bantuan dari solidaritas teman-teman jurnalis atau donatur.

Tunjangan transportasi serta jatah sarana komunikasi seperti pulsa untuk para kontributor atau koresponden selayaknya juga dipikirkan. Sangat sedikit perusahaan media yang memberikan jaminan dan tunjangan seperti itu untuk kontributor mereka.

Ujung-ujungnya hanya honor dari berita yang mereka setorkan saja yang berhak didapatkan. Masalahnya adalah honor dari perusahaan media belum masuk kategori layak untuk sebuah laporan jurnalistik mereka. Saat ini sebagian besarkoresponden hanya mendapatkan upah dari berita yang ditayangkan. Mereka hanya menggantungkan pendapatan dari berita seharga Rp 30.000-50.000(online), Rp 50.000-Rp 100.000 per berita (cetak), Rp 30.000-60.000per berita (radio), dan Rp 50.000 sampai 250.000 per berita (TV).

Nah, dengan besaran seperti itu, dalam satu bulan rata-rata penghasilan mereka dari karya jurnalistik antara Rp 1.000.000 – Rp 1.500.000. Jauh dari katagori layak untuk jurnalis yang sudah berkeluarga dan yang mempunyai banyak anak. Tanpa upah layak, mustahil jurnalis bisa bekerja secara profesional dan memproduksi karya jurnalistik dengan baik.

Upah rendah dari perusahaan media terhadap jurnalis, membuat jurnalis mudah tergoda suap dan menggadaikan idealisme mereka. Menghadapi masalah rendahnya kesejahteraan terhadap jurnalis, parapekerja pers berusaha berjuang dalam organisasi pekerja pers dengan membentuk serikat pekerja. Namun, sayangnya masih banyak perusahaan media menghalang-halangi keinginan jurnalis dan pekerja media yang ingin mendirikan serikat pekerja karena dianggap mengganggu dan mengacaukan operasional perusahaan. Padahal pendirian serikat pekerja merupakan hak pekerja yang dijamin Undang-Undang Ketenagakerjaan.

Pasal 28 Undang-undang tentang Serikat Pekerja menyebutkan siapa pun dilarang menghalang-halangi pembentukan serikat atau menjadi anggota dan pengurus serikat. Tak hanya itu, konstitusi negara ini juga menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, serta mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Kasus terakhir yang jadi perhatian publik adalah pemecatan sepihak puluhanjurnalis di berbagai daerah.

Menjadi seorang jurnalis adalah pilihan hidup, dan bukan karena tidak adanya ladang pekerjaan lain, tapi lebih pada panggilan nurani. Say ayakin tidak terbersit di hati teman-teman jurnalis untuk menjadi kaya ketika memutuskan memilih profesi tersebut.

Menurut saya Jurnalis adalah profesi bukan sebuah pekerjaan dan apabila seorang jurnalis profesional dalam menjalankan profesinya, yaitu dia paham dan jago dalamp rofesinya, tahu aturan-aturan main yang ada, maka otomatis dia layak dibayar mahal.

Beliau mengunjungi…

Ini berawal dari sebuah mimpi… berkarir di sebuah radio di kawasan Kota, Jakarta Barat. Sering berkomunikasi dengan pemilik radio.

Dan ini adalah kalimat untuk semangat diri ini yang terus ingat. Berawal dari promosi untuk posisi baru hingga saya kuatkan niat untuk memutuskan “Berani Aksi” dan “Keluar dari Zona Nyaman”.

“Saya terkesan dengan kemunculan namamu dalam rapat yang direkomendasikan Mr. A dan Mrs. B. Maaf, Saya harus katakan kemauan Mr. X yang dijalani,” Terlontar kalimat itu di ujung telephone.

Jawabku, Tak masalah, Bapak… Andre mengucapkan banyak terima kasih telah diizinkan untuk berkarir dan banyak belajar di radio milik Bapak.

Lalu beliau bertanya serius, “Apa yang di dapat dan buat apa?”

“Minimal Andre bisa kelola satu dari sekian media yang Bapak punya…,” Kata saya sambil terkekeh dan terdengar bosku hanya bilang “ya,ya”. 2 kata “Ya” nya.

Komunikasi terus berlanjut, entah berapa jam Kami ngobrol.
Untuk teman-teman yang bermain di radio, pasti familiar dengan boss ku, yang punya motto unik dalam bisnisnya. Kalo kata sahabatku nih… Jika sudah telephone, maaaass!!! berjam-jam, bikin kuping ini kesemutan. 😂😂😂

“Kalau Mancing mau dapat Paus, Pakai umpan jangan ikan Teri”

– F.E.I

Perjalanan mimpi akhirnya tertuju untuk Indonesia Bagian Timur! Negeri yang indah… Cobalah kesana, pasti Anda enggan meninggalkannya.

Di negeri yang indah itulah saya memulai wujudkan mimpi dari Nol. Semoga Allah memudahkan… 😊

Tepat 1 hari sebelum berakhirnya debat pilkada Jakarta 2017 putaran kedua…
Iya, Di Jakarta, Beliau mengunjungi…
Merespon keinginan Kami, Akhirnya memutuskan ke Jakarta yang sebelumnya mempersilahkan kepala dinas mewakili.

Ketika media radio dinantikan masyarakat…
Kami pun memohon restu.
Salam hormat, Oom Haji..